Rabu, 14 Oktober 2015

Sistem Informasi Psikologi



         A         Pengertian Sistem
         Sistem berasal dari bahasa latin (systema) dan bahasa Yunani (sustema): suatu kesatuan
yang terdiri dari komponen atau elemen yang saling berhubungan.
         Sedangkan menurut beberapa ahli sistem diartikan sebagai berikut:
1.      Salisbury : merupakan sekelompok komponen/bagian yang bekerja sama sebagai satu
kesatuan fungsi.
2.      J.C Hinggins : sistem ialah seperangkat bagian yang saling berkoneksi/berhubungan.
3.      Menurut kamus besar Bahasa Indonesia : sistem adalah sekelompok bagian-bagian yang bekerja sama untuk melakukan sesuatu maksud.

Jadi Sistem adalah suatu komponen yang saling berkaitan satu sama lain untuk melakukan
sesuatu yang memiliki tujuan.

          B         Pengertian Informasi

            Informasi berasal dari bahasa Perancis kuno yakni Information (1387) mengambil istilah dari bahasa latin yakni (Informationem) artinya “konsep, ide tau garis besar”, informasi juga merupakan kata benda dari Informare yang artinya aktifitas, aktifitas disini dalam arti pengetahuan yang dikomunikasikan.

            Sedangkan menurut beberapa ahli informasi diartikan sebagai berikut:
1.      Burch & Strater : informasi merupakan proses pengumpulan atau pengolahan data untuk memberikan sebuah pengetahuan/keterangan.
2.      George R. Terry : informasi sebagai data yang penting untuk memberikan pengetahuan yang bermanfaat.
3.      Tata Sutabri : informasi ialah data yang diolah/diinterprestasikan untuk mengambil sebuah keputusan.

Jadi Informasi adalah proses pengumpulan data yang dapat memberikan suatu
pengetahuan.

          C         Pengertian Psikologi

Ditinjau dari segi ilmu bahasa, kata psikologi berasal dari kata psyche artinya jiwa dan
logos artinya ilmu pengetahuan. Jadi psikologi berarti ilmu pengetahuan tentang jiwa.
            Sedangkan menurut beberapa ahli psikologi diartikan sebagai berikut:
1.      Wundt : psikologi itu merupakan ilmu tentang kesadaran manusia.
2.      Woodworth dan Marquis : psikologi mempelajari aktivitas-aktivitas individu.
3.      Branca : psikologi merupakan ilmu pengetahuan tentang perilaku manusia.
4.      Plotnik : psikologi merupakan studi yang sistematik dan ilmiah tentang perilaku dan proses mental.

Jadi Psikologi adalah ilmu yang mempelajari segala sesuatu tentang manusia baik dari
perilaku maupun proses mental.

            Berdasarkan bacaan diatas maka dapat disimpulkan bahwa Sistem Informasi Psikologi adalah cara-cara untuk mengumpulkan atau mengolah data mengenai manusia menyangkut perilaku ataupun proses mental menjadi suatu informasi yang bermanfaat.


DAFTAR PUSTAKA
           
            Ali, Muhammad. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Moderen. Jakarta : Penerbit Pustaka
Amani Jakarta.

            Heru, Basuki. A.M. (2008). Psikologi Umum. Jakarta : Penerbit Universitas Gunadarma.

           

Minggu, 07 Juni 2015

TERAPI PERILAKU



      Terapi perilaku [behavior therapy] dan pengubahan perilaku [behavior modification] atau pendekatan behavioristik dalam psikoterapi, adalah salah satu dari beberapa “revolusi” dalam dunia pengetahuan psikologi, khususnya psikoterapi. Aliran ini pada mulanya tumbuh subur di Amerika dengan tokohnya yang terkenal ekstrim, yakni John Broadus Watson, suatu aliran yang menitikberatkan peranan lingkungan, peranan dunia luar sebagai faktor penting dimana seseorang dipengaruhi, seseorang belajar.
      Terdapat dua pendapat mengenai dunia terapi perilaku. Sekelompok ahli mengatakan bahwa kedua pada dasarnya sama saja, namun sekelompok lain mengatakan bahwa terapi perilaku biasanya berhubungan dengan metode kondisioning yang berlawanan [counterconditioning], sedangkan terapi pengubahan perilaku menitikberatkan pada prosedur “aktif” [operant conditioning]. Terapi perilaku sebagai metode yang dipakai untuk mengubah perilaku atau dalam arti umumnya sebagai salah satu teknik psikoterapi, menurut Corey terdiri dari 3 tahap:
1.      Tahap pertama adalah tahap kondisioning klasik pada mana perilaku yang baru, dihasilkan dari individu secara pasif.
2.      Tahap kedua adalah tahap kondisioning aktif, dimana perubahan-perubahan di lingkungan yang terjadi akibat sesuatu perilaku, bisa berfungsi sebagai penguat ulang.
3.      Tahap ketiga adalah tahap kognitif. Sebagaimana diketahui bahwa munculnya terapi perilaku dengan cirri-ciri khas yang bertentangan. Menurut Franks yang dikutip oleh Corey bahwa terapi kognitif behavioristik sekarang berkembang sebagai bagian dari aliran terapi perilaku. Terapi perilaku yang tidak dibedakan dengan terapi pengubahan perilaku.

Corey merumuskan karakteristik pendekatan behavioristik antara lain sebagai berikut:
1.      Terapi perilaku didasarkan pada hasil eksperimen.
2.      Terapi ini memusatkan terhadap masalah yang dirasakan pasien sekarang ini dan terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi.
3.      Terapi ini menitikberatkan perubahan perilaku yang terlihat sebagai kriteria utama
4.      Terapi perilaku merumuskan tujuan terapi dalam terminologi konkret dan objektif, agar memungkinkan dilakukan intervensi untuk mengulang apa yang pernah dilakukan.
5.      Terapi perilaku pada umumnya bersifat pendidikan.

TEKNIK TERAPI PERILAKU

1.      RELAKSASI
      Keadaan relaks adalah keadaan pada mana seseorang berada dalam keadaan tenang, dalam suasana emosi yang tenang, tidak sebaliknya yakni misalnya tegang atau bergelora. Jacobson membuat teknik relaksasi yang disebut sebagai teknik atau latihan relaksasi progresif, untuk membawa seseorang sampai ke keadaan relaks pada otot-ototnya. Johannes Schultz, memperkenalkan teknik pasif agar seseorang dapat menguasai munculnya emosi yang bergelora yang dikenal sebagai latihan otogenik.
   
2.      PENGEMBALAN SISTEMATIK
      Wolpe melakukan penelitian dengan mempergunakan kucing sebagai hewan percobaan. Dengan teknik pemberian rangsangan secara bertahap maka dipakai istilah “sistematik”. Dimulai dari hal yang masih diterima, tidak menimbulkan kegoncangan atau perasaan takut, cemas, kemudian rangsangannya ditingkatkan secara bertahap, sampai kerangsangan yang seandainya diterima sekaligus, akan menimbulkan reaksi negatif.

3.      LATIHAN ASERTIF
      Latihan asertif atau latihan keterampilan sosial adalah salah satu dari sekian banyak topik yang tergolong populer dalam terapi perilaku. Perilaku asertif adalah perilaku antar perorangan yang melibatkan aspek kejujuran dan keterbukaan pikiran dan perasaan. Perilaku asertif ditandai oleh kesesuaian sosial dan seseorang yang berperilaku asertif mepertimbangkan perasaan dan kesejahteraan orang lain. Dari uraiaan ini terlihat bahwa perilaku asertif adalah perilaku yang menunjukan adanya keterampilan untuk bisa menyesuaikan dalam hubungan interpersonal, dalam lingkungan sosial.   

4.      PENIRUAN MELALUI PENOKOHAN [MODELING]
      Ada beberapa istilah yang muncul sehubungan dengan prosedur penokohan ini, ialah: penokohan, peniruan dan belajar melalui pengamatan. Dari beberapa istilah ini, istilah penokohan merupakan istilah umum untuk menunjukkan terjadinya proses belajar melalui pengamatan dari orang lain dan perubahan yang terjadi karenanya melalui peniruan.
a.       Penokohan yang nyata, contohnya terapis yang dijadiakan model oleh pasien atau klien.
b.      Penokohan yang simbolik adalah tokoh yang dilihat melalui film, video atau media lain.
c.       Penokohan ganda: seorang anggota dari satu kelompok mempelajari suatu sikap dan mengubah sikapnya dari apa yang diamatinya/dipelajarinya dari satu kelompok tersebut.

5.      PENGUASAAN DIRI [SELF-CONTROL]
      Melalui pendekatan penguasaan diri, pasien atau klien dimungkinkan memiliki pegangan untuk menghadapi masalah. Pada kategori pertama, terapis membantu pasien atau klien mengurangi kemungkinan terjadinya perilaku yang merugikan diri sendiri. Sedangkan pada kategori kedua, terapis menambah atau meningkatkan kemungkinan-kemungkinan untuk memperlihatkan respon misalnya masalah belajar pada pelajar. Salah satu cara ialah dengan memberi hadiah kepada diri sendiri karena ia berhasil tidak terlibat dalam keinginan yang berlebihan.
      Srategi umum dalam program penguasaan diri, yakni memperkuat perilaku yang diinginkan dan memperlemahnya dengan perilaku yang bertentangan yang tidak diinginkan. 

DAPUS : 
 Singgih D, Gunarsa.2007.Konseling dan Psikoterapi.Jakarta:PT BPK Gunung Mulia


Rabu, 29 April 2015

Psikoterapi (Terapi Person Centered Therapy)




Terapi Person Centered Therapy
      Melalui bukunya yang lain yang juga terkenal yang berjudul: On Becoming a Person: A Therapist’s View of Psychotherapy, pada tahun 1961, dan perkembangan lebih lanjut dari teknik konseling yang diperkenalkannya kemudian istilah client-centered approach berubah menjadi person-centered approach. Pada “client centered” memusatkan pada tangguang jawab klien terhadap perkembangan dirinya sendiri dan pada “person-centered” perhatian tertuju pada segi pemanusiaan dari klien dalam proses konseling.
Konsep terapi
      Konsep utamanya adalah pada hakekatnya manusia mempunyai tujuan tertentu dan berkembang maju ke depan. Organisme bersifat konstruksif, realistic, progresif, dapat dipercayai dan secara kodrat alamiah memiliki potensi untuk berkembang. Aspek-aspek negative yang terjadi pada seseorang seperti irrasional, anti sosial, egoistis, kejam, distruktif, kurang matang dan regresif disebabkan karena kehidupannya tidak selaras dengan kodrat alamiahnya atau dengan kata lain konsep diri sebenarnya tidak selaras dengan konsep diri idealnya.
Ciri-ciri Terapi
  1. Perhatian diarahkan pada pribadi bukan pada masalah. Tujuannya bukan untuk pemecaha masalah tetapi membuat individu itu tumbuh untuk dapat mengatasi masalahnya sendiri baik masalah sekarang atau yang akan datang dengan cara yang tepat.
  2. Penekanan lebih kepada faktor emosi daripada intelektual karena perbuatan lebih banyak dipengaruhi emosi daripada pikiran.
  3. Memberi tekanan yang lebih besar pada keadaan yang dialami sekarang bukan di masa lalu karena pola emosi sekarang sama saja dengan pola emosi yang lalu.
  4. Penekanan pada hubungan terapeutik. Pengalaman tumbuh dari hubungan terapeutik itu sendiri sehingga individu belajar memahami diri sendiri, membuat keputusan, dan bisa berhubungan dengan orang lain secara lebih dewasa.

SUMBER :
      Gunarsa, S.D. (1996). Konseling dan Psikoterapi. Jakarta : Gunung Mulia
      Semiun, Yustinus. (2006). Kesehatan Mental 1. Jakarta: Kanisius